Categories
Blog

Tips Sukses Aplikasi Busmetik

Budidaya udang skala mini empang plastik (Busmetik) menjadi solusi bagi pembudidaya skala kecil yang ingin berbisnis udang karena tak butuh modal besar dan ramah lingkungan. Meski begitu, pembudidaya perlu mengikuti kaidah budidaya yang baik dan benar agar sukses memanen si bongkok.

60:20:20

Menurut T.B. Haeru Rahayu, Asisten Deputi Pendi dikan dan Pelatihan Maritim, Kemenko Bidang Kemaritiman, modul bus metik terdiri dari tiga petak pemeliharaan, seunit tandon, dan vegetasi man grove masing – masing seluas 600 m2. “Artinya lahan petakan 60%, tandon dan vegetasi mangrove masing-masing 20%,” urainya. Namun, ukuran petak busmetik bisa sekitar 600—1.000 m2 /unit dengan kedalaman air 90—120 cm. Sistem budidaya yang digunakan semi tertutup dan petak tambak berlapis plastik sehingga mudah dilakukan di semua jenis tanah dan mengurangi risiko serangan penyakit. Budidaya vaname, kata Haeru, cocok menerapkan teknologi busmetik karena bisa hidup pada densitas tinggi, di atas 110 ekor/m3 . Sebelum digunakan, tambak busmetik dikeringkan selama 1—2 hari lalu dibersihkan, diisi air, dan disucihamakan menggunakan disinfektan seperti klorin seba nyak 50-60 mg/lilter. Setelah 2—3 hari, air tambak akan netral dan siap ditambahkan bakteri probiotik jenis bacillus.

Probiotik ini berfungsi untuk menguraikan bahan or ganik dan penghasil senyawa antimi kroba. Bacillus menguraikan limbah organik dengan cara memotong ikatan polisaka rida atau peptida menjadi senyawa sederhana sehingga mudah diurai. Haeru menegaskan, bacillus harus diberikan dia awal persiapan setelah air tambak netral dari klorin. Tujuannya, agar bacillus mendominasi mikro-organisme pada media pemeliharaan. Selanjutnya, bacillus diberikan secara berkala hingga akhir pemeliharaan untuk mempertahankan populasinya dalam tambak. “Aplikasi dengan cara seperti ini mampu mempertahankan kualitas air tambak lebih lama sehingga udang lebih stabil dan meminimalkan pergantian air,” katanya.

Biosekuriti

Doktor Biologi dari Universitas Indonesia itu menambahkan, pengelolaan pakan pada teknologi busmetik tidak berbeda dengan teknologi lainnya. Gunakan pakan berprotein 34%—36% sebanyak 3%—4% biomassa. Saat udang berumur 50 hari, lakukan sampling biomassa untuk menentukan dosis pakan berikutnya. Pertumbuhan udang juga selalu dipantau guna mengetahui tingkat pertumbuhan, mengetahui efektivitas pakan, kesehatan udang, dan menentukan waktu panen. Umumnya panen umur 100— 120 hari budidaya dengan size 50—70 ekor/kg. Sedangkan, biosekuriti tambak dilaku kan dengan memasang pagar plastik di se keliling pematang kolam dan menyaring air masuk ke dalam petak. “Masih dalam upaya biosekuriti, penggunaan per alatan dilakukan terpisah untuk masing-masing petak tambak,” ia mengingatkan. Kemudian, pembuangan air limbah pas capanen tidak langsung ke laut. Tetapi, dialirkan dulu ke sela-sela pohon mangrove yang menjadi green belt tambak ke pantai. Walhasil, hutan mangrove pun jadi subur.