Categories
Blog

Serba Lele dari Supardi Lee

Menuruti hobinya di bidang pertanian, pria asal Bandung ini mencoba peruntungan dengan berbisnis lele. Bekalnya adalah pelatihan tiga hari dua malam dari sang guru lele Sangkuriang, Abah Nasrudin, di Bogor. Pada 2009 Supardi Lee, begitu namanya, mulai merintis bisnis budidaya lele di Cimanggis, Depok, Jabar. Bermodalkan uang sebesar Rp30 juta dan 50 kolam warisan kakak iparnya, Supardi memijahkan 10 ekor induk lele sangkuriang yang ia beli dari Abah Nasrudin. Laiknya murid baru belajar, tentu saja hasil tidak semulus yang dibayangkan. “Saya ingat betul, omzet penjualan benih lele saya cuma Rp720 ribu per panen. Itu pun jualnya ke Abah,” kenangnya pada AGRINA sambil tertawa (2/3). Mengetahui hal ini, sang guru pun langsung datang ke ke diam annya untuk mengecek lang sung kemungkinan adanya kesalahan. Dari hasil pengecekan Abah Nasrudin, kemungkinan kesalahan terjadi saat penyortiran. Setelah itu, Abah Nasrudin pun memberikan saran dan masukan untuknya. “Alhamdulillah, musim panen kedua saya bisa panen 67 ribu ekor benih,” ucapnya penuh syukur. Dengan harga jual Rp150/ ekor, pada musim keduanya Supardi berhasil meraih omzet sebesar Rp10 juta per dua bulan.

Gagal Tak Menghentikannya

Alumnus IPB jurusan Teknik Industri Pertanian ini sadar betul akan risiko berkecimpung di dunia pertanian. Ayah dari tiga anak ini pernah memanen 1 ton lele hasil pembesaran saat menanam 10 ribu ekor/siklus, tetapi ada kalanya gagal. Supadi berpendapat, bisnis lele memiliki peluang yang besar. Hanya saja kini permasalahan ada di produksi.

Cuaca merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh di bidang pertanian, termasuk lele. “Seahli apa pun kita di bidang pertanian, pasti masih ada gagalnya,” ungkapnya. Namun, kegagalan hendaknya tidak dijadikan alasan untuk berhenti. Alih-alih menghentikan kegiatannya, ia malah sibuk mencari jalan keluar supaya dapat bertahan menggeluti hobinya. Sekitar 2011 tatkala bisnis yang sedang turun, Supardi berinisiatif mengundang sekolah-sekolah di sekitar kediamannya untuk melakukan studi wisata di kolamnya. Ia menetapkan tarif Rp10 ribu-Rp20 ribu/orang buat belajar dan bermain di lokasi. Biarpun masih berskala kecil, tetapi memang menguntungkan.